| Monday, July 14, 2008 |
| bila kau ada waktu |
kawan jangan pernah lupakan ketika kita terlarut dalam perbincangan untuk sebuah masa di jaman datang
kawan jangan pernah lupakan anak-anak yang berdiri di persimpangan jangan pernah lupakan orang-orang yang terlelap dalam gelapnya malam
bila kau ada waktu, katamu waktu itu pasti kita kan wujudkan mimpi yang pernah kita rencanakan ketika waktu masih merangkak menyusuri lorong-lorong malam
bila kau ada waktu jangan pernah lupakan untuk bergerak dan terus berjuang bukan untuk apa-apa hanya kesadaran yang masih tersisa
kawan bila kau ada waktu tentu kita akan terus kobarkan untuk orang-orang yang terus berada di jalan tanpa pernah mengerti kenapa
24\11\06 |
posted by putut semburat @ 1:09 AM   |
|
|
|
| Sunday, October 21, 2007 |
| Narasi Sebilah Belati |
kutulis pesan ini pada sebilah belati dan kukirim kepada nisan yang kini telah berdiri beku
kepada sepenggal kisah tak lupa kupahat narasi singkat ini pernah kucumbu hatimu
............. in memoriam |
posted by putut semburat @ 11:53 PM   |
|
|
|
| Thursday, September 20, 2007 |
| kembali bermimpi menjadi pejalan |
gerbong kereta tak begitu ramai. meski segelintir orang dipaksa serampangan menaruh badan di sepanjang jalan kecil gerbong kereta. ah, inilah kepasrahan kami. kesusahan memang telah begitu lama menemani ketika kami merasa resah. pun dalam perjalanan malam itu.
di sampingku duduk seorang perempuan. kemudian ku kenal dia sebagai dian wening, nama yang cantik, pikirku kala itu. selayaknya dalam awal pertemuan, pertanyaan-pertanyaan personal lebih banyak terlontar dalam pertemuan singkat itu. "...pulang ke mana mbak?" juga tak luput menjadi pembuka dalam perbincangan kala malam itu. diskusi kecil kemudian mengalir mencoba beradu dengan deru kereta api. segala macam tema menjadi santapan untuk bertarung mengalahkan kesenyapan. pun tak mungkin menang. diskusi tak mengambil kesimpulan. karena sengaja kami biarkan berdiri tanpa tiang pancang. hanya saja dalam perbincangan itu, kami masih sempat untuk tak sepakat mengenai satu hal persoalan.
waktu itu ada seorang peminta-minta(pengemis, red). seorang anak kecil, kira-kira umurnya 10 atau 11 tahun. seperti biasanya, aku berusaha tak memberi meski dengan perasaan yang janggal. namun kawan perempuan yang duduk di sampingku dengan tenang menaruh sekeping uang logam di tangan tengadah anak tersebut. anak itu kemudian segera beranjak. perbincangan pun segera memberi tawaran bagi pikiran yang beraneka macam. persoalan yang kutawarkan adalah demikian, "sebenarnya tak ingin membangun standar ganda terhadap peminta-minta. hanya ketika kita menghadapi seorang anak yang menjadi peminta-minta, masih sempatkah kita juga berpikir sebelum akhirnya menaruh recehan di tangan anak tersebut. memberi dia sekeping uang logam, dengan tanpa sadar kita juga turut memperpanjang usia anak tersebut sebagai peminta-minta. karena tangan tengadah adalah semacam kepasrahan yang ironis. kepingan uang logam tersebut, sekali lagi cukup mampu memperkokoh konstruksi istana yang tengah dibangun anak tersebut di jalanan. meskipun dengan catatan, secara ketat kita juga tak bisa berlaku STOP BERI UANG. anak jalanan adalah semacam kenyataan yang membingungkan. ketika pilihan itu dengan tidak memberi, terlalu sedikit lembaga, pun pemerintah yang bisa bertanggung jawab mengajak kembali anak-anak ini kepada dunia yang wajar (konsep denotasi). atau pilihan itu dengan memberi, tak juga menjawab kegelisahan anak tersebut terhadap masa depan."
kawan perempuan yang duduk di sampingku ketika dalam perjalanan malam itu, memilih tak setuju dengan alur pemikiranku. ia berpegang pada kondisi yang tak mungkin bisa tergenggam oleh satu tangan. anak jalanan (peminta-minta) jumlahnya ribuan, dan orang yang akan memberi juga lebih dari ribuan. sementara lembaga yang bisa berperan sebagai malaikat hanya beberapa gelintir saja. ketika kita menjatuhkan pilihan dengan tidak memberi, belum tentu orang lain tidak akan memilih dengan memberi. ketika ada lembaga yang mau menjadi "penyelamat", belum tentu anak-anak jalanan mau untuk "diselamatkan". pun baginya persoalan memberi adalah sebuah pemaknaan pada upaya tolong-menolong secara universal. adalah kewajiban bagi orang berpunya untuk memberi terhadap orang yang tidak berpunya. perbincangan berhenti sampai di sini. pilihan menjauhi terjadinya debat kusir yang semakin berlarut-larut memutus pembicaraan ini.
tak banyak yang terungkap, karena malam tak berhenti merayap. terlelap memang lebih menjadi jawaban tanpa pertanyaan. sementara kereta terus berjalan menyusur malam. di depanku duduk pasangan suami istri dengan seorang anak laki-laki yang kira-kira berumur 1 tahun 3 bulan. wajah anak ini imut sekali. kupikir kelak ketika ia dewasa, akan menjadi laki-laki yang manis. rupanya ia tertarik dengan keberadaanku di belakangnya. kemudian mencoba menyapaku dengan bahasa seuntai senyum. hanya senyum, yang mampu menjembatani batasan komunikasi di antara kami. selain sepatah kata yang baru dipahaminya. sepenggal kata om untuk memanggilku.
namun ternyata komunikasi ini terjalin semakin menarik. ia memberiku tawa lepas ketika kugoda dia dengan permainan ci luk ba. ah... renyah sekali tawa anak ini. sungguh menyenangkan. hanya saja karena malam semakin larut, aku merasa tak enak hati untuk meneruskan permainan dengan anak kecil itu. orang tuanya telah memintanya untuk bobo'. sementara ia sendiri belum merasa nyaman untuk menyudahi perjumpaan denganku. "...ya udah, bobo' ya dik udah malam. om juga mau bobo' kok." kataku mengakhiri tawa lepas, permainan ci luk ba, dan sepatah kata om untuk memanggilku ini.
penumpang kereta semakin banyak yang terlelap. gerbong-gerbong semakin sunyi. hanya deru kereta tetap setia menjadi pelantun memecah malam. di beberapa stasiun, kereta berhenti. saat itulah rejeki bagi pedagang-pedagang asongan. malam tak lagi di hiraukan. dingin tak pernah dirasakan. segera mereka bergerak menyambangi penumpang di gerbong-gerbong. berharap dagangan menarik minat penumpang untuk dibeli. begitu seterusnya, dari gerbong ke gerbong, kereta yang satu ke kereta yang lain. kereta singgah barang sebentar, kemudian segera melaju menyusup malam.
malam semakin hilang. berganti dini menyapa hari. mataku semakin terkantuk. akhirnya lelap mengakhiri perjalananku hingga pagi menjelang di yogyakarta. segera kutuju kamar mandi, setelah berdesakan turun dari kereta. rasa penat dan lelah kukira segera sirna setelah diguyur air segar.
semangkuk soto pak gareng begitu mudah hanyut ke dasar perut begitu aku keluar dari stasiun tugu. seorang pengamen kuminta memainkan sebuah lagu dari kla project, yogyakarta. ah, begitu indah yogyakarta pagi itu. suatu ketika pasti kuulangi, bukan hanya yogyakarta tetapi mungkin kota-kota yang lain. karena rasa-rasanya aku semakin tahu, rupanya aku telah jatuh cinta pada perjalanan.
jakarta, 21 september 2007
|
posted by putut semburat @ 6:02 PM   |
|
|
|
| Thursday, September 06, 2007 |
| elegi suatu pagi |
mimpi itu tak lagi resah bercumbu malam tak pula nyeri mendamping sepi ah... kegetiran tak lagi nampak dalam wujud orang-orang kota. ........ membaca kota, mencatat keganjilan.
jakarta, 7 september 2007 |
posted by putut semburat @ 7:10 PM   |
|
|
|
| Thursday, July 26, 2007 |
| kematian tuhan |
kawan kukabarkan padamu kubunuh tuhan di tikungan itu ketika kuhabiskan sebotol minuman dalam temaram malam lalu kunyatakan... hari ini tlah kulumuri jiwaku dengan darah tuhan
tuhan tak berkutik detik telah menjadi ruang tanpa perih tiada resah menjadi nyala bagi manusia kukabari kepadamu kawan di tikungan itu, makamkan jasad tuhan.
TIM malam dalam kesendirian. |
posted by putut semburat @ 7:36 PM   |
|
|
|
| Sunday, October 08, 2006 |
| Tentang cerita kebisuan |
Pagi masih menjelma Ketika aku terbangun dalam gurat-gurat kebisuan Sebuah radio kunyalakan Sayup-sayup terdengar berita dari seberang Semalam, api telah membakar seisi kota Senapan menjerit di sela rintih seorang bocah kecil Seakan tahu, kesadaran tiada rupa dalam kekalutan Senapan itu… Bocah itu… Api itu pun hendak berkata… Kesia-siaan menjadi wajah, Yang memberi topeng pada segala kemunafikan Pada hidup ini Pada kejadian yang terkadang mencekam Entah… Membuat kita tertawa atau larut dalam kesedihan Ya… Seringkali, kita larut dalam kebisuan Jurangmangu, 2004 |
posted by putut semburat @ 11:41 PM   |
|
|
|
|
| Renungan setengah tiang |
Kesedihan negeri ini kesedihanku juga Tak perlu kata tak perlu sapa Kiranya bendera telah kehilangan makna Hanya coretan, sepenggal cerita dari negeriku Dari jiwa-jiwa Yang rindu Tanam padi tumbuh padi Dan bukan ilalang Juni 2004 |
posted by putut semburat @ 11:41 PM   |
|
|
|
|
| Malam dan kesunyian |
Malam akan tetap larut Meski jengkerik telah diam Tak ada bintang malam ini Yang menghiasi langit Karena mendung Nanti hujan kawan Bawalah payung sebelum kau pergi Biarlah ia yang akan melindungimu dari hujan Tetesan embun dingin menyentuh kulitku Ketika berjalan dalam keremangan malam Kesunyian memang terus menyergap Menimbulkan kesedihan Ketakutan pada hidup Dan kemunafikan Jurangmangu, 7 Februari 2003 |
posted by putut semburat @ 11:38 PM   |
|
|
|
| Thursday, October 05, 2006 |
| sang pejalan |
...gunung-gunung memanggilku...

"selalu akan kulalui jalan itu"
|
posted by putut semburat @ 11:27 PM   |
|
|
|
| Wednesday, October 04, 2006 |
| Kepada jiwa yang mati |
Suasana ini meruntuhkan kesadaran Menyeruak, membunuh jiwa Namun pasti Hari kian berlari Meninggalkan jejak-jejak darah dalam luka Menetes membasahi tanah ini Menggoreskan catatan kedukaan Yang tak mungkin terhapuskan Kepada jiwa yang mati Lihatlah kobaran api yang kian membara Lihatlah awan pekat membumbung menghitam Menghiasi langit kala senja di ujung sana Yang hitam karena duka Yang merah karena luka Kepada jiwa yang mati Bangkitlah… Dunia ini telah habis bagi tidurmu. Jurangmangu, 4 Desember 2002 |
posted by putut semburat @ 9:05 PM   |
|
|
|
|
| About Me |
|

Name: adi nugroho
Home: Indonesia
About Me: "seorang pejalan"
See my complete profile
|
| Previous Post |
|
| Archives |
|
|
| Links |
|
|
| Template by |
|
|