Wednesday, October 04, 2006

Hari benci

Malam ini..
Kubuka catatan harian
Lembar demi lembar
Kucari tempat kosong
Ingin kutulis
Tentang kesedihanku
Tentang kecewaku
Siang tadi
Ketika demonstrasi
Tiada hati nurani
Tak peduli putra-putri negeri
Kami dipukuli
Ingin kutuliskan
Hari ini
Aku benci polisi

Jakarta, Maret 2003

Sunday, October 01, 2006

Catatan keheningan

Jerit tangis bukanlah jawaban atas penyesalan
Hanya pada kesadaran jiwa harus berpegang
Hati ini pilu…
Dada ini sesak karena nafas telah terbuang
Keinginan hanyalah karang yang tak mungkin terhantam

Apakah semua ini mimpi?

Mata nanar nan sayu tenggelam di ujung jalan
Pikiran melayang liar menerawang
Kehampaan telah datang
Membuyarkan impian yang belum tergapai

Jiwa ini telah tergadai

Jalan telah hilang ditelan ombak yang menggulung
Tak ada perasaan, semuanya suram
Tak ada perlawanan, hanya tangis yang menggema
Menimbulkan jejak kesepian dalam pelarian

Apakah semua ini akan sirna?

Hanya kesedihan yang menari dipelupuk mata
Hanya ratapan yang terdengar tanpa henti
Dalam iringan senja yang akan segera berlalu
Meninggalkan harapan yang memilukan

Jurangmangu, 5 Februari 2003

Tentang secuil harapan

Lentera masih terlalu amat kecil
Namun jangan, jangan biarkan ia padam
Biarlah akan menemani langkah kita

Kelak suatu ketika
Kita akan
nyalakan lentera yang sangat terang
Yang akan menjaga
Dan juga membangkitkan
Roh kesadaran dalam jiwa kita
Untuk melaju dan terus melawan

Jurangmangu, 18 Oktober 2004

Tuesday, September 26, 2006

Tanpa Judul

Kudengar rintih perih
Menusuk dalam kabut nurani
Seorang ringkih, terisak dalam sesak yang teramat
Ia ingin menangis
Tapi mimpi tak pernah membuatnya mengerti
Bahwa kenyataan, seperti mawar yang selalu berduri
Seperti hari dalam temaram senja
Menari cahaya matahari berdendang cahaya bulan
Sekat-sekat seakan mengerti
Keikhlasan menemani kepahitan
Tercecer
Seperti janji pada hari
Kesenangan terbias dalam kelopak mata
Terekam
Seberkas potret tentang kenyataan

*tanpa tahun dan tanggal.

Friday, September 22, 2006

Catatan dan Kematian

tak perlu kau risaukan kematian
karena ia hadir untuk memastikan

tak perlu kau takutkan kehidupan
karena ia ada untuk kau tinggalkan

jakarta, 22 september 06

Setangkai bunga perlawanan

Kawan...
Mungkin setangkai bunga ini tak mampu menjelaskan
Ketika cinta dan dendam
Menjadi kekuatan dalam perlawanan

Kawan...
Biarlah hari akan menentukan
Cerita ini dimana akan berakhir
Tak usah risau mengukir prasasti
Sebab hari masih terlalu panjang

Kawan...
Mari kita dendangkan sebait lagu perlawanan
Pada hidup dan juga kematian
Yang kerap menemani
Ketika kita larut dalam kesunyian

Kawan...
Setangkai bunga ini
Kelak akan menceritakan
Meski kalah, kita pernah melawan

Jurangmangu, Oktober 2004

Sebuah ilusi kosong

Lama kuberdiri
Menatap di seberang jalan
Seorang kakek, sekitar 90 an
Dengan lencana perang
Memakai topi veteran
Lama kutertegun
Sampai ia kembali berjalan
Kemudian masuk makam
Waktu itu jam dua belas malam

Magelang, Maret 2003

Wednesday, September 20, 2006

Ketika senja berlalu*

Panas terik matahari membakar kulitku, seakan tak peduli pada rintihan nafasku yang tersengal-sengal menapaki jalan setapak yang terus mendaki itu. Seekor burung Prenjak hinggap di pohon, tanpa henti terus bernyanyi serasa menghiburku, namun aku tak peduli. Mungkin karena hatiku saja yang sedang gundah, hingga tak dapat menikmati suasana yang sebenarnya sungguh mempesona. Hamparan sawah yang luas, tampak menguning bagai permadani layaknya menggambarkan kesejahteraan petani, yang selalu tersenyum menghadapi musim panen tiba. Sebuah akhir perjuangan jika dapat kukatakan. Mengapa? kalau dipikir, hasil jerih payah petani selama ini, dari mulai menanam bibit kemudian memeliharanya, sampai akhirnya tumbuh menjadi biji-biji padi yang padat berisi, selalu sebuah penantian, padi-padi yang telah menguning.

Hijaunya pegunungan di sebelah selatan, sebenarnya turut menyegarkan suasana. Suasana yang panas seakan menjadi teduh kembali ketika kulepaskan pandanganku ke arah deretan pegunungan itu. Ia seakan menyihirku, membuatku terbuai dengan kelebatan pohon-pohon yang tumbuh beranekaragam di sana. Ia seakan memaksaku untuk mengatakan bahwa deretan pegunungan itu membentuk pola yang indah. Seperti sebuah filosofi kehidupan jika mampu kuartikan bentuk pola deretan pegunungan itu. Begitu banyak makna yang tersirat dari pancaran hijaunya pepohonan yang terus tegak berdiri meski panas terik matahari membakarnya. Tak seperti diriku. Kepayahan menghadapi sengatan matahari. Ya…….mungkin karena aku manusia, yang dikaruniai perasaan hingga dapat mengeluh. Seandainya saja pohon-pohon itu bisa bicara, mungkin ia akan mengeluh, sama seperti diriku. Namun karena ia ditakdirkan menjadi sebuah pohon, jadi mereka menerima segala hal yang menimpa dirinya,tanpa bisa mengelak, karena pohon itu tak mampu bergerak, kecuali tumbuh keatas dan menjadi besar. Tetap saja mereka di situ, jika saja dari sejenisku, kaum manusia tak memindahkannya.

Namun saat itu aku tak mampu menikmati layar lebar kehidupan yang disuguhkan dalam layar lebar kehidupan oleh Tuhan. Aku benar-benar merasakan sebuah kekecewaan yang sangat mendalam. Belum pernah aku merasa kecewa, seperti saat ini. Namun tak baik kiranya jika kuungkapkan di sini, biarlah kunikmati sendiri segala resah hatiku.

Menikmati sebuah kehidupan adalah suatu keindahan. Tak selamanya setiap manusia mampu melaksanakannya. Tak begitu sulit namun membutuhkan keikhlasan hati. Seperti halnya burung prenjak yang hinggap di pohon itu dan terus bernyanyi meski suasana sebenarnya sangat panas. Ia menikmati sengatan matahari sebagai suatu instru-men yang akan mengiringinya selama ia bernyanyi.memang ak tak pernah tahu, apa mak-sud dari nyanyiannya, mungkinkah ia sedang bersukacita atau sebaliknya sedang bersusah hati. Maaf saja, aku tak pernah paham bahasa binatang. Tentang suatu ekspresi binatang, memang sepertinya bermacam-macam, hatiku tak ikhlas jika waktuku habis waktuku habis untuk mengamati tingkah laku binatang, sementara tingkah laku dari kaumkupun, aku belum memahaminya. Padahal kalau aku mau berpikir lebih jauh, sepertinya mengamati perilaku manusia sama saja mengamati perilaku binatang. Memang tak semuanya, namun secara generalisasi, secara umum, perilaku manusia pada saat ini, para orang tua mengatakan hampir mirip perilaku binatang. Tapi kenapa harus binatang ….? Bukan pohon atau rumput, atau apalah pokoknya bukan binatang. Wah, kerepotan kalau menjelaskannya. Ya, pokoknya manusia itu seperti binatang. Tapi maaf, aku tak bermaksud merendahkan derajat manusia sebagai makhluk yang paling mulia, karena kalian tahu sendiri aku juga manusia, sama seperti yang kubicarakan.

Tentang perilaku manusia yang seperti binatang, mungkin karena terpancang pada teori Evolusi Darwin. Darwin, bapak evolusi, yang telah berjasa dalam pengembangan disiplin ilmu pengetahuan. Sebatas yang kutahu itu saja, hingga pada akhirnya manusia dipersamakan dengan binatang, bukan yang lainnya.

Kini kurasakan semilir angin menerpa tubuhku, tak terasa tak terasa waktu terus bergulir tanpa pernah meninggalkan jejak sedetikpun. Mungkin, pada saat ini sahabat yang mau mengerti aku adalah waktu. Karena sang waktu, matahari harus segera pergi, seiring putaran sang waktu. Pancaran sinarnya yang panas semakin lama semakin lembut membelai tubuhku. Kunikmati suasana ini, saat-saat suatu kehidupan harus berubah bentuk dan rupa. Saat-saat suatu aktivitas diakhiri dan berhenti untuk istirahat, menikmati buaian malam yang akan segera datang.

Inilah sebenarnya cerita keindahan hari terukur, lewat semburat cahaya kemerah-merahan dari sang surya di ufuk barat. Paduan warnanya adalah sebuah kehidupan. Namun, keindahan itu akan segera sirna. Berganti sebuah keindahan lagi dalam bentuk yang berbeda.

Inilah batas sebuah kehidupan, ketika senja telah berlalu, malam tak mungkin lari untuk menemani manusia mengukir hari di dalam mimpi. Kini senja itu telah berlalu, ada kepuasan dalam diriku, dapat menikmati senja saat ini. Namun aku selalu sedih, kenapa senja harus berlalu, meninggalkan eloknya tarian kehidupan .

Dan kini senja itu telah berlalu dan harus terus berlalu…………..

Jurangmangu, 22 September 2002

*pernah dikirim ke sebuah media (surat kabar-red), namun di tolak.

Lelaki dan perempuan

Yang tertidur di pinggir jalan
Di emperan toko
Atau geladak pasar-pasar

Yang tertegun ketika hari berganti siang
Yang terbangun ketika malam mencurigakan
Hidup dan matipun tiada ketenangan

Lelaki dan perempuan
Mereka serupa sampah yang tercetak di kehidupan

Magelang, 21 November 2004

Keresahan

Kepulan asap rokok ini adalah kegelisahan
Pada kehidupan yang kian tak kumengerti
Ketika penderitaan menjadi bahan tertawaan
Dan tontonan kekerasan menemani
Acara makan siang

Kian semrawut dunia ini
Seperti semrawutnya otakku ini

Tiada lagi teriakan lantang
Stop….
Segala kemunafikan dan kenaifan
Mari membangun sebuah dunia
Yang tiada kata kebencian

Jurangmangu, 25 September 2004